02.31
Posted In
artikel wewe
Edit This
After Reading THIS, you'll NEVER look at a banana in the same way again!
Setelah membaca ini, kamu akan melihat kelebihan dari buah PISANG
Bananas: Containing three natural sugars - sucrose, fructose and glucose combined with fiber, a banana gives an instant, sustained and substantial boost of energy. Research has proven that just two bananas provide enough energy for a strenuous 90-minute workout. No wonder the banana is the number one fruit with the world's leading athletes.
Buah Pisang : Mengandung tiga jenis gula alami - Sukrosa, Fruktosa dan Glukosa yang dikombinasikan dgn FIBER, Pisang memberikan tambahan sokongan energi yg langsung cukup banyak. Penelitan telah membuktikan bahwa dengan hanya dua buah pisang mendukung energi yang cukup utk kuat selama 90 menit. Tidak heran mengapa pisang merupakan buah nomor satu yang banyak dikonsumsi oleh atlit dunia.
But energy isn't the only way a banana can help us keep fit. It can also help overcome or prevent a substantial number of illnesses and conditions, making it a must to add to our daily diet.
Namun bukan hanya energi yg dihasilkan, buah pisang juga dapat menjaga tubuh selalu fit. Dan membantu utk mencegah beberapa penyakit, diperlukan untuk menambah diet harian kita.
Depression: According to a recent survey undertaken by MIND amongst people suffering from depression, many felt much better after eating a banana.
Depresi : Berdasar survey terbaru oleh "MIND" terhadap orang yang mengalami Depresi, banyak yang terbantu setelah mengkonsumsi buah pisang.
This is because bananas contain tryptophan, a type of protein that the body converts into serotonin, known to make you relax, improve your mood and generally make you feel happier.
Oleh karena pisang mengandung Tryptphan, sejenis protein yg diatur tubuh menjadi Serotonin, diketahui dapat membawa efek relax, menambah suasana hati pada umumnya menjadi lebih baik.
PMS: the pills -- eat a banana. The vitamin B6 it contains regulates blood glucose levels, which can affect your mood.
PMS (Sindrom yg terjadi pada banyak w anita mulai 2 s/d 14 hari sebelum menstruasi) : Lupakan obat-obatan - makanlah buah pisang. Vitamin B6 yg terkandung mengontrol tingkat gloksa darah, yg dapat mempengaruhi kondisi tubuh lebih baik.
Anemia: High in iron, bananas can stimulate the production of hemoglobin in the blood and so helps in cases of anemia.
Anemia (Kekurangan darah) : Tinggi zat besi, buah pisang dapat merangsang produksi hemoglobin (sel darah merah) dan membantu kasus penyakit ANEMIA
Blood Pressure: This unique tropical fruit is extremely high in potassium yet low in salt, making it the perfect way to beat blood pressure. So much so, the US Food and Drug Administration has just allowed the banana industry to make official claims for the fruit's ability to reduce the risk of blood pressure and stroke.
TEKANAN DARAH : Buah unik tropis ini mengandung zat potassium yg cukup tinggi dan rendah garam, membuat tekanan darah menjadi lebih baik. Dan banyak lagi, sebuah perusahaan Makanan dan Obat-obatan di Amerika Serikat mengklaim buah pisang dapat mengurangi resiko dari tekanan darah tinggi dan penyakit STROKE
Brain Power: 200 students at a Twickenham (Middlesex) school were helped through their exams this year by eating bananas at breakfast, break, and lunch in a bid to boost their brain power. Research has shown that the potassium-packed fruit can assist learning by making pupils more alert.
Vitamin/Energi utk OTAK : 200 orang pelajar sekolah di Twickenham (Middlesex) terbantu dalam ujian mereka tahun ini setelah setiap sarapan, istirahat dan makan siang selalu mengkonsumsi buah pisang sebagai pemacu kekuatan berpikir mereka. Penelitian juga memperlihatkan bahwa buah yg disertai zat potassium dapat membantu otot mata menjadi lebih awas.
Constipation: High in fiber, including bananas in the diet can help restore normal bowel action, helping to overcome the problem without resorting to laxatives.
SEMBELIT : Tinggi kadar fiber, dapat membantu program diet untuk mengempiskan bagian perut. membantu mengatasi masalah tanpa ber-efek murus-murus
Hangovers: One of the quickest ways of curing a hangover is to make a banana milkshake, sweetened with honey. The banana calms the stomach and, with the help of the honey, builds up depleted blood sugar levels, while the milk soothes and re-hydrates your system.
RASA SAKIT ; Salah satu cara mudah/cepat mengobati rasa sakit adalah dengan membuat campuran buah pisang dengan milkshake, ditambahkan dengan madu. Buah pisang meredakan perut dan dengan bantuan madu dapat meredakan kadar gula, sedangkan susu selain menyegarkan juga membantu proses re-hidrasi sistem tubuh
Heartburn: Bananas have a natural antacid effect in the body, so if you suffer from heartburn, try eating a banana for soothing relief.
SAKIT JANTUNG : Buah Pisang memiliki zat asam semut (penetral asam) yang alami terhadap tubuh, dan jika anda menderita karena ada bagian yg sakit pada jantung, coba utk makan pisang untuk meringankan rasa sakit tersebut.
Morning Sickness: Snacking on bananas between meals helps to keep blood sugar levels up and avoid morning sickness.
Rasa nyeri dipagi hari : Makan buah pisang setelah sarapan membantu kadar gula anda untuk mengurangi rasa sakit/pegal2 sewaktu bangun pagi
Mosquito bites: Before reaching for the insect bite cream, try rubbing the affected area with the inside of a banana skin. Many people find it amazingly successful at reducing swelling and irritation
GIGITAN NYAMUK : Sebelum menggunakan cream oles anti gigitan serangga, coba olesi bagian yang terkena gigitan tsb dengan bagian dalam kulit pisang. Banyak ditemukan orang yang sukses mengurangii pembengkakan dan iritasi pada bagian kulit yg telah digigit oleh serangga.
Nerves: Bananas are high in B vitamins that help calm the nervous system
URAT SYARAF : Buah pisang tinggi kadar vitamin B yang membantu menenangkan sistem URAT SYARAF
Overweight and at work: Studies at the Institute of Psychology in Austria found pressure at work leads to gorging on comfort food like chocolate and crisps. Looking at 5,000 hospital patients, researchers found the most obese were more likely to be in high-pressure jobs. The report concluded that, to avoid panic-induced food cravings, we need to control our blood sugar levels by snacking on high carbohydrate foods every two hours to keep levels steady
KELEBIHAN BERAT BADAN DAN BEBAN PEKERJAAN : Studi pada Institut Psikologi di Austria menemukan bahwa tekanan pada pekerjaan mendorong kita utk mengkonsumsi (lebih senang memakan) snack, coklat, keripik dsb. Memperhatikan dari 5000 pasien rumah sakit, ditemukan bahwasanya kebanyakan dari kasus obesitas (kegemukan) disebabkan oleh tekanan pekerjaan. Hasil laporan menyimpulkan bahwa untuk menghindari kecanduan makanan tersebut, kita perlu mengendalikan kadar gula darah kita dengan makanan ringan yg tinggi karbohidrat setiap 2 (dua) jam utk menjaga kadar gula tsb stabil
Ulcers: The banana is used as the dietary food against intestinal disorders because of its soft texture and smoothness. It is the only raw fruit that can be eaten without distress in over-chronicler cases. It also neutralizes over-acidity and reduces irritation by coating the lining of the stomach.
Bag.PENCERNAAN : Pisang digunakan sebagai makan diet mencegah gangguan pencernaan dikarenakan lembut/halusnya susunan/tekstur dari buah pisang tsb. Hanya buah mentah inilah yg dapat langsung dapat dimakan tanpa harus susah2 mengolahnya.. Dan juga menetralisir kelebihan zat asam dan mengurangi iritasi dengan melapisi bagian dalam perut kita.
Temperature control: Many other cultures see bananas as a "cooling" fruit that can lower both the physical and emotional temperature of expectant mothers. In Thailand , for example, pregnant women eat bananas to ensure their baby is born with a cool temperature Seasonal Affective Disorder (SAD): Bananas can help SAD sufferers because they contain the natural mood enhancer tryptophan.
PENGENDALIAN SUHU : Banyak pendapat yg menyatakan bahwa buah pisang ini sebagai penyejuk/penyegar yg dapat mengurangi baik secara fisik maupun emosional calon Ibu. Di negara Thailand sbg contoh, w anita hamil memakan pisang utk memastikan bahwa bayi yg akan lahir dengan kondisi SAD yg terkendali ( SAD = gangguan/kecemasan sang calon ibu): Buah pisang membantu penderita SAD karena mengandung Zat alami Tryptophan = asam amino yg mengandung protein utk pertumbuhan dan metabolisme yg normal sbg penghasil niasin (niasin : vitamin A, B utk fungsi normal system syaraf pembuangan)
Smoking: Bananas can also help people trying to give up smoking. The B6, B12 they contain, as well as the potassium and magnesium found in them, help the body recover from the effects of nicotine withdrawal.
MEROKOK : Buah pisang dapat membantu orang yg akan berhenti merokok, karena kandungan vitamin B6 dan B12 dan juga kandungan potasium dan magnesium membantu tubuh mencegah efek dari gangguan akibat zat NIKOTIN
Stress: Potassium is a vital mineral, which helps normalize the heartbeat, sends oxygen to the brain and regulates your body's water balance. When we are stressed, our metabolic rate rises, thereby reducing our potassium levels. These can be rebalanced with the help of a high-potassium banana snack.
STRES : Potasium merupakan mineral penting yg dapat menormalkan detak jantung, mengirim oksigen ke otak dan mengendalikan kadar cairan tubuh. Saat kita sedang mengalami STRES (gangguan pikiran yg dapt mengakibatkan gangguan badan), tingkat metabolisme mjd naik, dan karenanya terjadi pengurangan kadar potasium.. Ini dapat dikendalikan dengan makanan ringan dari pisang yg kaya dgn kadar potasiumnya
Strokes: According to research in "The New Eng land Journal of Medicine, "eating bananas as part of a regular diet can cut the risk of death by strokes by as much as 40%!
STROKE (jenis penyakit yg diakibatkan kehilangan fungsi dari anggota atau bagian lain tubuh saat aliran oksigen dlm darah menuju otak terganggu): Menurut penelitian "Jurnal Medis di New Eng land ", memakan buah pisang adl bagian dari program DIET yg dapat mengurangi resiko kematian akibat STROKE sebanyak 40%.
So, a banana really is a natural remedy for many ills. When you compare it to an apple, it has four times the protein, twice the carbohydrates, three times the phosphorus, five times the vitamin A and iron, and twice the other vitamins and minerals. It is also rich in potassium and is one of the best value foods around. So maybe its time to change that well-known phrase so that we say, "A banana a day keeps the doctor away!"
Oleh karena itu memakan buah pisang merupakan pengobatan ALAMI utk pelbagai penyakit. Saat dibandingkan dengan buah APEL, pisang memiliki 4 kali lipat protein, 2 kali lipat zat karbohidrat, 3 kali lipat fospor, 5 kali lipat vitamin A dan zat besi, 2 kali lipat mineral dan vitamin lain. Juga kaya kadar potasium dan merupakan buah terbaik yg mudah didapat. Mungkin dapat dikatakan " BUAH PISANG MEMBUAT KITA JAUH DARI DOKTER" karena kita selalu sehat.
You might want to pass this tidbit to your friends!!!!
Akan kah Anda mengabaikan tips/resep ini utk rekan2 anda yg lain ?__,
02.15
Posted In
artikel wewe
Edit This
Artikel: Memadukan Kekuatan Akal Dan Kelembutan Hati
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Apa yang membedakan manusia dengan mahluk lain? Kita bilang; 'akal!'. Manusia memiliki akal, sedangkan mahluk lain tidak. Itulah sebabnya manusia bisa mengklaim diri sebagai mahluk Tuhan yang paling sempurna. Sebab, dengan akalnya itu manusia bisa melakukan begitu banyak hal yang tidak bisa dilakukan kucing, kelinci, ataupun bunga melati. Sayangnya, tidak semua yang bisa dilakukan manusia itu digunakan untuk kebaikan sesama. Karena pada kenyataannya, akal kita sering digunakan untuk 'mengakal-akali' dengan cara melakukan apapun demi kepentingan segelintir individu atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, banyak buah pahit dari hasil karya akal manusia itu. Dengan demikian, untuk menjadi 'mahluk sempurna' seperti klaimnya, manusia mesti memiliki piranti lain. Sehingga kecerdasan akalnya dapat diimbangi oleh kearifan dari dalam dirinya. Apakah gerangan piranti itu?
Sesekali, kita perlu memperhatikan para kura-kura. Seekor kura-kura kalau hendak berjalan pastilah akan mengeluarkan kepalanya dari dalam tempurungnya. Dan ini adalah isyarat yang kura-kura berikan pada kita bahwa memang benar kita harus menggunakan kepala alias otak dan akal pikiran kita supaya kita bisa melakukan ini dan itu. Tanpa kepala kita tidak bisa membangun suatu hasil karya cipta apapun. Sebab, kepalalah pusat segala kekuatan kreatif imajinatif yang membantu menusia menghasilkan berbagai macam penemuan. Sehingga, kita bisa membangun peradaban. Itu benar.
Tetapi, mari perhatikan sang kura-kura itu sekali lagi. Dalam perjalanannya, dia sering berhenti. Dan ketika berhenti melangkah itu dia menarik kepalanya kembali masuk kedalam cangkang tempurungnya. Lalu dia berdiam diri. Pertanda apakah gerangan ini? Ini adalah tanda pengingat bagi kita yang terlampau mengutamakan akal, bahwa; sesekali kita harus menarik kekuatan akal itu ke belakang layar. Kemudian mendekatkan kepala kita kedada dimana didalam bersemayam sesuatu yang biasa kita sebut sebagai hati nurani. Sebab, kata kura-kura:'hati nurani itu akan membantu kita mengarahkan akal pikiran'.
Ketika akal berjalan sendirian, maka hasil pemikiran kita hanya akan menjadi sebatas proses eksplorasi dan eksploitasi atas keuntungan, kemudahan, kenikmatan dan hal-hal serupa itu. Apakah itu mengganggu orang lain? Akal tidak terlampau peduli, karena fungsi utamanya adalah untuk membuat hidup kita lebih mudah dan indah. Soal orang lain rugi atau terganggu oleh kaidah-kaidah yang dihasilkannya, itu soal lain. Itulah sebabnya, mengapa banyak orang yang berbisnis tanpa mempedulikan moral, lingkungan, atau kepentingan orang lain. Orang lain bagi mereka adalah lahan untuk dieksploitasi. Itulah juga sebabnya mengapa banyak orang yang tidak peduli pada kepentingan tetangga hanya untuk memenuhi kepentingan rumah dan keluarganya belaka. Tetangga bagi mereka adalah objek yang boleh dikorbankan demi kepentingan dirinya sendiri.
Kata kura-kura; "Berhenti sejenak dari terlampau menggunakan akal kamu. Dan sesekali ajaklah dirimu untuk berkontemplasi menggunakan hati nurani."
Menakjubkan sekali. Ketika seseorang mengikuti petuah sang kura, ternyata dia menemukan bahwa akal itu bukanlah segala-galanya. Justru orang yang terlampau menggunakan akal tidak akan pernah berhasil menjadi mahluk sempurna. Karena, kesempurnaan manusia diperoleh dari penggunaan yang seimbang antara akal dan hati. Ketika seseorang hanya menggunakan hati, dia menjadi orang baik yang kurang produktif. Dan ketika seseorang hanya menggunakan akal, maka dia akan menjadi orang kompetitif yang sangat destruktif. Tetapi, ketika seseorang menggunakan akal dan hati dalam sebuah perpaduan harmoni, dia menjadi orang berprestasi tinggi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dirinya sendiri.
Dan menakjubkan sekali, karena ternyata; ketika dia mengkombinasikan hatinyalah segala hasil karya cipta akalnya menjadi maslahat tidak hanya bagi dirinya sendiri. Melainkan bagi orang lain. Ketika semakin besar cakupan pengaruhnya, semakin luas dampak positifnya.. Sehingga, boleh jadi suatu saat nanti; dia bisa berkontribusi kepada kepentingan seluruh umat manusia. Karena, kecanggihan akal pikirannya diimbangi oleh pertimbangan hati nurani untuk kemaslahatan bersama. Bukan semata kepentingan pribadi. Sebab, akal dan hati itu seperti dua sisi keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa akal, hati tidak bisa mencukupi hidup. Dan tanpa hati, akal sering membuat kerusakan. Sedangkan dengan akal dan hati; kita bisa saling berkontribusi.
Hore,
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
02.13
Posted In
artikel wewe
Edit This
Sebuah kisah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga.
Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah mengkhianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini,setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama.
Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah.
Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata: "Mari,kita jemput nenek di kampung".
Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.
Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami:"Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?" Aku menjelaskannya kepada nenek: "Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira". Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: "Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga."
Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil
menggeleng-gelengka n kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan,dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa. Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras. Suamiku memencet hidungku sambil berkata: "Putriku, kan kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.
Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.
Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di
dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya: dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.
Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis. Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah."Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan piring itu bisa membuatmu mati?"
Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana menjadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri?
Demi menjaga suasana pagi hari agar tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata:"Luci, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?" sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata: "Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi". Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.
Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa
bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!
Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh…… suamiku segera mengejarnya keluar rumah.
Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek.
Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata:"Luci, sebaiknya kamu periksa ke dokter". Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah
berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?
Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke
arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku
ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?
Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.
Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya.Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung."Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku.. Sambil menangis aku menjerit dalam hati: "Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"
Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.
Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak
melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika........ .... dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.
Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya
walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.
Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jantungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.
Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka. Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar.
Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ...., semua berlalu begitu saja.
Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.
"Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya". Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.
Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya."Luci, kamu hamil?" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg mengalir keluar dengan derasnya. Aku menjawab: "Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi". Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.
Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata: "Maafkan aku, maafkan aku". Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.
Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pemberian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.
Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?
Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.
Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera
digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?
Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.
Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya…… aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit seperti saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjizat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi peduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.
Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…… Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami. "Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku.. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. "Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun-tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai".
Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku. "Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita.. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya".
Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum... ....... anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata........ .........
Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini. Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah
pesan dari cerita ini: "Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati".
Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya
menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.
02.11
Posted In
artikel wewe
Edit This
Empati
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji
dikawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas
karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang
menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula
yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.
Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak
terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada.
Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya
terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa
saja.. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru
saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang
berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas
meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah.
Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah.
Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan.
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah
berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan
yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak
melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.
Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman.
Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri.
Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah
jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah.
Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan
besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti
besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan
sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak
itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan,
umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap
orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari
itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa
bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang.
Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chicken Soup", saya kerap
membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di
belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan
merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia
bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus
kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya
berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari.
Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia
dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata
"terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian.
Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat
orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan
orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet,
bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya.
Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka.
Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran.
"Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?''
Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuahtulisan almarhum Romo Mangunwijaya.
Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya,
saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia.
Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain.
Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji,
kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar,
kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang
permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal
karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di
antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk berjaga-jaga apakah
ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang
membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di
belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu.
Mulailah sekarang juga...!!!
02.10
Posted In
artikel wewe
Edit This
Pernahkah Kalian merasa malu terhadap apa yang sudah dilakukan kepada teman Anda atas kebohongan yang lama tersimpan rapih, walaupun pada kenyataannya hal itu tidak pernah terjadi?? Jika jawabannya Ya, kenapa Anda melakukannya? Dan Jika jawabannya Tidak, kemukakan alasannya?
Kawan,
Banyak orang rela melakukan kebohongan besar maupun kecil bukan Cuma kesesama teman, keluarga bahkan berani sampai ke banyak orang. Mengapa hal itu dilakukan? Menurut analisa beberapa ahli kejiwaan mengatakan hal itu dilakukan hanya semata-mata ingin mendapat “tempat tertinggi” dikalangan masyarakat luas termasuk teman dan keluarga. Dr. Josef More, ahli psikologi remaja dari OHIO University USA , melakukan riset mendalam selama 12 tahun di Indonesia . Ia melakukan beragam survey maupun meneliti karakteristik budaya remaja Indonesia . Selama kurun waktu tersebut, ia banyak menghabiskan waktunya mengajar disalah satu Sekolah International ternama di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Dan selama itulah ia banyak memperoleh data-data akurat untuk mendukung hasil survey dan penilitiannya bukan hanya disekolah melainkan dari kampus ke kampus. Oleh sebab itu Ia pun tercatat sebagai salah satu Dosen tetap fakultas Psikologi disalah satu Universitas Swasta ternama di Bandung selama hampir 5 tahun.
Kemudian Ia menjelaskan, bahwa hal itu paling sering dilakukan oleh remaja Indonesia antara umur 18 s/d 22 tahun. Mengapa? Karena diusia seperti itulah mereka pada umumnya menginginkan sesuatu hal yang memiliki nilai dan bobot lebih tinggi dari pada lingkungan sekitarnya walaupun pada kenyataannya tidak mencerminkan sama sekali. Bisa berupa penghargaan atas prestasi, pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian, komunitas terkenal, dikelilingi lawan jenis yang menarik dsb. Pada intinya yang mereka cari yaitu nilai prestise yang saat itu sedang menjadi trend.
Biasanya, lanjut Dr. More, berdasarkan survey hampir 55% yang paling sering melakukan itu adalah Wanita. Identik antara umur 18 s/d 19 tahun. Mengapa demikian? Dia membaginya kedalam beberapa klasifikasi:
a. Pada umumnya mereka dimata lingkungan social ingin lebih diakui dalam segala hal.
b. Percaya atau tidak, mereka memiliki daya ekspektasi sangat tinggi, sehingga untuk mencapainya, terkadang, suka “menghalalkan” berbagai cara meskipun akhirnya orang lain mampu memberikan penilaian terhadap apa yang sudah terlanjur dikatakan.
c. Terkadang untuk mencapai sesuatu mereka tidak melihat factor proses menuju keberhasilan, malah yang paling menjadi tolak ukur adalah hasil.
e Pada intinya, kebanyakan dari mereka, jika sudah tercapai hasil yang baik, biasanya tidak dibarengi dengan memperdalam hasil tersebut dengan melakukan upaya-upaya tambahan guna terus meningkatkan kemampuannya.
f. Ada kaitannya dengan point diatas. Jangan heran kalo dalam suatu percakapan mereka lebih sering mengatakan hasil-hasil lain dalam segala hal yang nilai prestisenya lebih tinggi dari lawan bicaranya. Padahal apa yang sudah dikatakan (sering) tidak pada tempatnya, dan terkesan (maaf) sombong.
g. Terkadang mereka lupa, bahwa banyak berbicara mengenai jenis pekerjaan, prestasi kerja, penghargaan, dan hal-hal prestise lainnya dalam sebuah pertemuan atau percakapan ringan, nantinya malah membuat lawan bicaranya menjadi menghindarinya. Padahal hal tersebut seharusnya tidak perlu.
Sisanya yaitu 45% dilakukan oleh Pria. Kisaran umur 19 s/d 23 tahun. Bedanya factor utama yang membuat kebanyakan pria berbuat demikian karena Gengsi. Yah, Gengsi itulah yang sering dijadikan oleh pria khususnya remaja Indonesia sebagai alat untuk “menjual diri” mereka dihadapan orang banyak agar hidupnya terkesan dipenuhi banyak aktivitas, juga malah terkesan ingin mendapat nilai lebih dimata masyarakat akan suatu hal yang sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya. yahhh walaupun memang sebenarnya benar begitu tapi lebih banyak yang dilebihkan.
Bagi mereka sangat penting apabila banyak membicarakan hal-hal yang sifat (sebenarnya) semu alias sementara. Itu dikarenakan pola pikir akibat dari lingkungan sekitarnya mendukung sekali melakukan hal demikian. Dr. More menambahkan, banyak diantara mereka melakukan itu banyak dipengaruhi oleh Pola Pikir belum Realistis. Realistis disini dalam artian bahwa ada keterkaitan antara cerita, pengalaman hidup atau dsb dengan kehidupan yang sedang berlangsung sekarang. Apabila hal itu tidak ditemukan setelah kita tahu bahwa apa yang dikatakan seseorang, misalnya, tidak sesuai dengan nalar dan rasionalitas maka bisa disimpulkan apa yang dikatakan kebanyakan BOHONG. Rasional sih sudah, cuma sering sekali melupakan nilai-nilai Realistis kedalam hidupnya.
Dia memberi contoh sebagai berikut:
—–Udin: Eh, kemaren gue baru aja ketemu ama Ryan* di C-K**. Dia keliatan banget abis manggung gitu, bajunya aja masih rada kusut dikit. Seru dehh!
Emon: Ooooo….Trus, trus, dia liat lo ga??
Udin: Liat sih sekilas doang, abis itu kayanya dia buru-buru keluar gitu.
* (Vokali D’Massiv)
** (Circle K)
Dalam bukunya “Seni Kejiwaan” Dr. More tidak membeberkan jawaban tentang dimana letak nilai Gengsi dan Realistisnya. Dia lebih menyerahkan penilaian kepada para pembacanya.
Tapi secara garis besarnya, saya mencoba mengilustrasikan bahwa Udin itu hanya orang sipil biasa yang kebetulan melihat sosok terkenal, dan dikarenakan factor kebetulan tersebut, ada keinginannya untuk bercerita langsung kepada temannya sebagai wujud dari penegasan Gengsi terhadap status socialnya, bahwa ia pernah tidak sengaja bertemu artis yang kebetulan juga tidak sengaja juga melihatnya. Nah kemudian hal itu menjadi berlebihan ketika Udin bercerita mungkin tidak pada temannya saja tapi pada semua orang.
Hal ini sering saya jumpai ketika masih kuliah dulu, ketika seseorang ingin mendapat tempat (semu) dimata orang banyak, mereka seringkali melupakan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran hakiki yang sebetulnya banyak melahirkan ending yang sempurna. Daripada mengedepankan nilai Gengsi Tinggi tapi mengenyampingkan aspek Realistis didalamnya, yang ujung-ujungnya sering mendatangkan bencana dikemudian hari.
Kesimpulannya,
a. Apa artinya banyak bicara kalaupun nanti hasilnya tetap saja nol. Lebih baik duduk tenang, berusaha maksimal, dan melihat keberhasilan dari sebuah proses bukan hasil.
b. Bersikap seRealistis mungkin akan jauh lebih baik daripada terus mengedepan Kesombongan diatas sikap Gengsi, karena hasilnya akan mudah ditebak dikemudian hari.
02.09
Posted In
artikel wewe
Edit This
Jalan Menuju Sukses Bisnis Berbeda-Beda
Sebagai orang yang hampir tiap minggu bertemu entrepreneur sukses dari
skala UKM hingga konglomerat yang punya ratusan perusahaan dan punya
pesawat pribadi, saya sering ditanya sobat2 dan kawan yang baru
merintis bisnis sendiri. "Dari pertemuan dan perkenalan dengan mereka,
apah sih sebenarnya rahasa sukses bisnis mereka? Kenapa sih kok mereka
bisa sukses dan bisnis mereka bisa membesar hingga skala korporasi?".
Tidak mudah menjawab pertanyaan seperti ini. Tapi kalau kalau saya
boleh memberikan beberapa catatan dari yang saya dapatkan
informasinya, bahwa jalan menuju sukses itu bisa berbeda-beda, sesuai
pengalaman dan konteks bisnisnya masing-masing. Ada yang mengatakan
kunci sukses berbisnis adalah 'menjaga kepercayaan karena dari
dipercayalah kemudian muncul trust dari para mitra kita, termasuk
pembeli". Biasanya mereka yang mengatakan seperti ini bisnisnya di
bidang jasa dan bisnis banyak berurusan dengan klien-klien besar
secara B2B. Dua kenalan saya yang satu kontraktor bisnis pertambangan
dan satunya pengusaha kurir sama-sama mengatakan 'kunci sukses ialah
menyenangkan orang lain dan menjaga hubungan baik". Bisa jadi karena
dia banyak pelanggan korporat dan pekerjaan dia harus menservis setiap
demand dari klien -- dalam artian positif, bukan menyogok.
Sementara kawan yang bisnisnya garmen, fashion, dan consumer good,
cenderung mengatakan, "inti sukses berbisnis ialah membangun merek,
membangun nama baik di hadapan semua konsumen. Karena itu tahapan
tersulit ialah membangun merek dari produk kita agar dikenal konsumen
secara luas, diakui sebagai produk yang baik dan dibeli". Pendapat ini
tentu saja juga betul, sesuai konteks industri yang digeluti.
Bahkan diantara sesama pengusaha yang bisnisnya sama-sama B2B, atau
sama retil ke mass consumer pun pendapatnya masih bisa berbeda-beda.
Karena momentum sukses dari masing-masing orang itu juga beragam.
Mungkin bisa lihat contoh Pak Roni Lukito, pengusaha tas
dari Bandung. Pak Roni ini punya merek tas yang amat terkenal di
Indonesia seperti Exsport, Eiger, Bodypac, dll. Beliau hanya lulusan
STM tapi sukses dan punya ribuan karyawan. Nah, saya lihat momentum
yang membuat beliau bisa berkembang itu setelah dia diterima sebagai
pemasok di Matahari. Untuk bisa diterima sebagai pemasok Matahari ia
ditolak 13 kali, tapi terus mencoba dan kemudian setelah 13 kali baru
berhasil diterima. Dari sinilah ia mulai mendapatkan 'ruang' untuk
membuktikan bahwa produknya memang baik dan digemari konsumen.
(Catatan: Pak Roni ini pengusaha sukses yg sangat low profile yang
nggak pernah diwawancara media, makanya profilnya nggak pernah
kelihatan di media massa. Saya beruntung sekali bisa dipercaya beliau
sehingga mau saya profilkan).
Saya lihat, meskipun beliau ini sekarang bisnisnya sudah
bermacam-macam, termasuk sukses membangun komplek-komplek perumahan
mewah di Bandung dan bahkan punya klub pacuan kuda dan segala
fasilitas lapangannya, namun momentum yang membuat dia sukses ialah
ketika ia diterima sebagai pemasok di Matahari saat merintis bisnis
tas itu. Karena dari situlah jalannya menjadi lebih lempang dan cepat.
Saya kira tugas kawan2 yang ingin sukses membangun usaha sendiri ialah
'menemukan momentum seperti itu dan kalau sudah ketemu lalu
menggenjotnya' . Kalau istilahnya Hermawan Kertajaya, menemukan
G-Spot-nya. Maka kita tidak boleh lelah mencari 'kendaraan' agar bisa
menemukan momentum seperti itu.
Tentu saja kita juga harus selalu rendah hati untuk belajar dari
banyak orang. Entah kebetulan atau tidak, ternyata sebagain besar
pengusaha sukses yang saya temui, juga sangat menyukai bacaan dan
buku2 yang mendorong, seperti biografi mereka2 yang telah terbukti
sukses. Mereka rajin menggali inspirasi dari berbagai sumber.
Contohnya pengusaha kurir, Pak Budiyanto yang juga diprofilkan di buku
'10 Pengusaha Sukses..." ternyata beliau sudah sangat sering membaca
profil pengusaha-pengusaha sukses sejak masih mahasiswa D3 UGM. Entah
dari buku, majalah, koran, dll. Saya kira pilihan 'suka membaca'
seperti itu bisa dimengerti karena kalau kita sendiri mungkin belum
tentu bisa ketemu pengusaha besar si A, B, dan C -- kalau harus
mendengar dia ceramah di sebuah sesi seminar mungkin biayanya diatas
Rp 2 juta -- namun kita bisa mengakses lebih murah cara2 berpikir dan
kiat mereka dari hasil wawancara dengan media tertentu atau buku.
Disini, message-nya, sebenarnya orang sukses itu ialah orang mau
berendah hati untuk selalu belajar, bisa dari buku2 bacaan dan media
massa, bisa juga dari pembicaraan langsung dengan pengusaha yang telah
lebih dulu sukses. Dan tentu saja juga orang yang selalu berusaha
terus-menerus tanpa putus asa. Ibarat batu, sekeras-kerasnya batu
kalau tiap hari kena tetesan air, lama-lama akan tergerus juga dan
lama-lama batu itu bisa habis. Kita semua ini adalah air yang terus
menetes itu. Selama kita tidak pernah lelah untuk 'menetes' maka
yakinlah bahwa batu-batu itu akan habis. Dan jangan lupa, dalam setiap
mengeluarkan 'tetesan' itu seraya bersyukur dan mengingat Sang
Pencipta agar semua tetesan kita diberkahi. Jangan sampai kita sukses
berbisnis tapi hati kita gersang kan?...
Semoga usaha kawan2 semua sukses sesuai rencana dan diberkati. Amin.
kejujuran vs kebohongan
Salam hormat
02.09
Posted In
artikel wewe
Edit This
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Kepada saya pernah dinasihatkan; jangan sampai kamu membiarkan
hatimu menjadi buta, tuli, dan bisu. Mungkin nasihat itu terasa
seperti sekedar basa-basi. Tetapi jika kita coba cermati, ternyata
memang; hati manusia itu menentukan segala tindakan dan
perbuatannya. Baik kepada diri sendiri, maupun orang lain. Orang-
orang yang hatinya buta, tidak dapat melihat dampak merugikan yang
ditimbulkan dari perilakunya yang buruk. Orang-orang yang hatinya
tuli, tidak bisa mendengar jerit tangis orang lain. Dan orang-orang
yang hatinya bisu, tidak mampu mengatakan bisik kebajikan bahkan
sekedar kepada dirinya sendiri. Jadi, sungguh berbahaya jika manusia
sampai membiarkan hatinya menjadi buta, tuli, dan bisu. Sebab jika
sudah demikian, kita yang menganggap diri sebagai mahluk mulia ini
tidak akan malu lagi untuk melakukan apa saja. Seburuk apapun itu.
Karena kita pada dasarnya; tidak lagi memiliki hati nurani.
Saya ada sesi presentasi CRM dihadapan sekitar 50 orang sales force
hari Jum'at kemarin. Dalam perjalanan menuju lokasi presentasi,
radio mobil saya tuned in di sebuah stasiun. Setelah memutarkan
beberapa lagu, penyiar bercerita tentang proses penggusuran sebuah
pasar bunga yang sudah sejak jaman dahulu hadir disalah satu sudut
kota Jakarta. Kemudian dia mengatakan bahwa diseberang telepon sudah
tersambung seorang pedagang bunga sekaligus pemilik satu dari 108
buah kios yang dirobohkan budozer aparat pemerintah.
Ketika mendengar hal itu, hati saya biasa-biasa saja. Mungkin karena
sudah terlampau sering saya mendengar kabar, membaca dikoran, atau
menyaksikan lewat pesawat televisi; peristiwa-peristiwa penggusuran
semacam itu. Isak tangis ibu-ibu pemilik gubuk atau kios. Kemarahan
para lelaki yang tertindas. Semuanya sudah menjadi biasa. Jadi, saya
tidak lagi merasakan itu sebagai sesuatu yang perlu dipedulikan.
Semuanya, biasa-biasa saja.
Pagi itu, tangan saya terasa enggan untuk sekedar memencet remote
control agar berita tak bernilai itu tidak lagi terdengar ditelinga
saya. Bosan rasanya. Tapi, mengapa tangan ini sama sekali tidak
kuasa untuk meraih remore control itu? Seolah memaksa diri saya
untuk mendengar percakapan radio itu. Baiklah, saya dengarkan saja.
"Pak Cahya," demikian sang penyiar radio menyebut lelaki diseberang
telepon. "Apa yang saat ini sedang terjadi disana?"
"Ya, disini aparat pemerintah sedang membumihanguskan kios-kios
kami," dia bercerita.
"Lalu apa yang anda dan rekan-rekan lakukan?" lanjutnya.
"Kami berbaris saja didepan pasar dengan damai sambil menyaksikan
para petugas yang digaji dari retribusi yang kami bayar setiap hari
itu merusak semua milik kami." katanya. Telinga saya mulai
terkesiap. Seperti telinga seekor anjing yang mendengar suara
gemerisik ditengah kesunyian malam. "Sementara kami tidak kuasa
menyaksikan mereka menginjak-injak kaum perempuan dan ibu-ibu."
"A-apa yang Bapak maksudkan menginjak-injak kaum perempuan?"
"Dibarisan paling depan ada ibu-ibu yang duduk dengan damai sambil
memegang bunga, lalu para petugas ...."
Saya tidak lagi dapat mendengar dengan jelas apa yang dikatakan
pemilik kios bunga itu. Sebab, tiba-tiba saja saya merasakan mata
ini berkaca-kaca. Ah, mengapa harus cengeng! Begitu hati saya
memberontak. Tetapi, semakin dia melawan, semakin terang-terggambar
dalam imajinasi saya suasana yang tengah terjadi dipasar bunga yang
terusir itu. Saya memang beberapa kali menyaksikan proses
penggusuran pasar dan rumah warga di berita-berita televisi. Dan,
saat ini; tayangan demi tayangan itu berputar-putar diotak saya. Dan
semakin kuat hati saya memberontak, semakin samar pandangan saya
oleh air mata yang kini sudah meleleh dipipi kiri dan kanan.
Hey! Sudah sangat lama saya tidak menitikkan air mata. Mengapa hari
ini saya melakukannya? Masihkah kamu seorang lelaki bersuara lantang
itu? Kemana gerangan ketegaran dirimu pergi? Saya tidak tahu. Saya.
Tidak. Tahu. Yang saya tahu, dada saya tidak kuasa lagi menahan
gejolak. Aneh, telinga saya mendengar suara seseorang yang tengah
terisak. Padahal, didalam mobil itu hanya ada saya sendirian. Jadi,
suara siapakah gerangan itu?
Sekitar jam delapan kurang lima belas menit, mobil yang saya
kendarai melintasi pasar Jatinegara menuju ke arah Matraman. Ketika
saya berhenti diperempatan yang tertahan oleh lampu merah, saya
mendapati diri saya sudah menangis seperti seorang pencinta yang
ditinggal pergi kekasih hatinya. Orang-orang yang menyeberang
melintasi mobil mungkin mengira saya memang tengah patah hati. Para
pengendara motor yang berjejer dikanan dan kiri menanti lampu hijau
terheran-heran; mengapa ada lelaki berdasi yang tengah mengendari
mobil sambil menangis? Tapi, ah. Biarkan saja. Mereka tidak mengerti
apa yang saat ini tengah saya rasakan dalam hati ini. Saya biarkan
saja hujan setempat itu terus mengguyur. Toh ada kertas tissue yang
bisa digunakan untuk menyekanya kemudian.
Gerimis pagi itu mulai mereda ketika melintasi pasar kenari. Semua
perasaan gundah itu hilang begitu saja. Aneh. Semuanya sirna kecuali
kaca spion yang memantulkan bentuk mata sembab saya seolah tidak
tidur selama berhari-hari. "Hey, kamu itu mau melakukan presentasi."
saya berbisik sendiri. "Bagaimana bisa, dengan mata semacam itu?"
Ah, tidak apa-apa. Mata ini akan segera pulih kembali. Sebab, air
mata yang baru saja dikeluarkannya itu memang untuk membasuh hati
yang sudah buram ini. Sekarang, hati saya terasa ringan. Dan tiba-
tiba saja, dia bisa melihat lebih terang. Mendengar lebih jelas. Dan
berkata dengan suara yang lebih jernih. Saya sudah menemukan hati
itu kembali.
Ketika saya menyeka wajah dihadapan cermin di toilet; saya melihat,
mata itu sudah kembali seperti mata yang biasanya. Sama sekali tidak
nampak disana sisa-sisa kegundahan. Yang ada, hanyalah perasaan
lega. Karena hari ini, saya kembali diingatkan bahwa; hati tidak
boleh dibiarkan mati.
Pagi itu, sebelum sesi presentasi dimulai, saya berkata kepada rekan
yang bertugas menyiapkan slide-slide kami; "Tolong tambahkan satu
slide lagi."
"Isinya apa, Pak?" kata sahabat saya.
"Tuliskan disana: Bekerja Dengan Hati" kata saya. "Lalu, tolong
carikan gambar hati, dan simpan di slide itu." Kemudian sahabat saya
melakukannya.
"Tolong jadikan itu sebagai slide pertama saya untuk presentasi pagi
ini...." begitu saya menambahkan.
Ketika sesi itu tiba tepat jam sembilan pagi, saya memulainya dengan
sebuah slide berisi gambar hati. Sungguh relevan dengan materi
presentasi saya pagi ini, yaitu; memuliakan pelanggan. Memuliakan
orang-orang disekitar kita. Dan memang benar. Langkah pertama yang
harus kita lakukan untuk apapun adalah; membawa serta hati kita.
Bayangkan jika kita bisa membawa serta hati terhadap setiap
pekerjaan yang kita lakukan. Apakah itu pekerjaan yang berhubungan
dengan CRM seperti yang saya bawakan dipagi itu. Ataukah pekerjaan
lain yang sehari-hari kita geluti. Pastilah, kita akan dengan ikhlas
melakukannya. Benar, kita masih mengharapkan bayaran. Tidak apa-apa.
Sebab begitulah hukum pelayanan dalam konteks pekerjaan. Kita
melayani. Dan orang yang kita layani memberikan bayarannya. Namun,
dengan menyertakan hati kedalam pekerjaan; pastilah kita bersedia
melakukan segala hal terbaik, untuk orang-orang yang kita layani.
Tidak akan pernah terlintas dalam pikiran kita untuk melakukannya
asal-asalan. Apalagi merugikan orang lain. Menipu. Menindas.
Memperdayai. Menjerumuskan. Tidak.
Dengan membawa hati nurani; kita tidak hanya sekedar bekerja demi
mendapatkan keuntungan pribadi. Dengan membawa hati nurani; kita
pasti selalu bisa memberi nilai manfaat kepada diri kita sediri.
Kepada orang lain. Kepada perusahaan yang mempekerjakan kita. Dan,
yang terlebih penting lagi adalah; kepada saat dimana kita harus
berhadapan dengan sang pemberi hidup. Yaitu, saat dimana Dia
bertanya kepada kita; Apa yang telah kamu lakukan dengan hidup yang
kuanugerahkan kepada dirimu?.
Hore,
Hati Baru!
Dadang Kadarusman
01.47
Posted In
artikel wewe
Edit This
Belajar menjadi orang Goblok Ala Bob Sadino
Renungan
> Pasti Anda bingung dengan judulnya, 'goblok' kok
dipelajari!
> Awalnya saya juga bingung, tapi setelah bertemu langsung
dengan Om Bob(pangilan akrab Bob Sadino), baru percaya bahwa
statement itu benar.
> Bob Sadino terkenal dengan pengusaha yang 'Nyleneh' gaya dan
pola pikirnya. Sejak dari jaman Soeharto, dia terkenal dengan
'kostumnya' yang selalu bercelana pendek. Begitulah cara Om Bob
bertemu dengan semua presiden negeri ini.
> Di kediamannya di kawasan Lebak Bulus sebesar 2 hektar, dia
membuat kami pusing dengan statement-statement nya yang super
Nyleneh.
> Misalnya dia tanya,"Menurutmu kebanyakan orang bisnis cari apa
Jay?" Spontan kita jawab,"Cari untung om!" Kemu dian Om Bob
balik menjawab,"Kalo saya cari rugi!"
> Dia menjelaskan, kalo bisnis cari untung, apa selamanya untung?
Sama juga kalo bisnis cari rugi, apa selamanya rugi? Maknanya
adalah, rugi tak perlu ditakuti. Bahkan karyawan Kemchicks
(pabrik daging olahan)dan Kemfarms (exportir sayur dan buah)
diijinkan untuk berbuat salah.
> Sampai-sampai ada karyawan yang pernah membuat kerugian US$ 5
juta dan masih bekerja sampai sekarang.
> Goblok atau Pintar? Trus apa maknanya belajar 'Goblok'?
> Bukankah banyak orang pandai tapi tak berhasil dalam usaha atau
bahkan melangkahpun tak berani.
> Om Bob bilang, kalo orang 'goblok' itu tak pandai menghitung,
makanya lebih cepat mulai usaha. Kalau orang pinter,
menghitungnya 'njlimet', jadi nggak mulai-mulai usahanya.
> Orang 'goblok' berbisnis tidak berfikir urutan, sedangkan orang
pinter, berfikir urut. Orang pintar tidak percayaan dengan
orang lain, jadi semuanya mau dikerjain sendiri, seolah tak ada
yang dapat menggantikan dirinya.
> Nah, kalau orang 'goblok', dia akan mencari orang pintar dan
harus lebih pintar darinya, untuk menjalankan usahanya.
> Orang pintar ketemu gagal, cenderung mencari kambing hitam untk
menutupi kekurangannya. "Ehm, situasi ekonominya lagi down",
atau "Pemerintah nggak mendukung saya", kata orang pintar.
> Lain hal dengan orang 'goblok', jika ketemu gagal, nggak merasa
kalau dia gagal, karena dia merasa sedang 'belajar'.
> Bahkan Om Bob juga mengatakan bahwa dia sebagai orang 'goblok'
tidak melakukan perencanaan usaha, target ataupun mengenal
cita-cita.
> Namun sebaliknya, semua karyawannya harus memiliki target dan
perencanaan. Buahnya, orang 'goblok' yang jadi bossnya orang
pintar.
> Itulah adilnya Tuhan menciptakan orang pintar dan orang
'goblok'.
> Masalahnya sekarang, siapa yang merasa pintar, siapa yang
merasa goblok?
> Trus, enakan mana jadi orang pintar atau orang 'goblok'? Jika
Anda semakin bingung dengan tulisan saya, artinya bagus,
berarti Anda mulai ....Goblok!
> Kalau Anda emosi, berarti Anda pintar. Itu juga kata orang Om
Bob lho..!
> Filosofi 'goblok' Bob Sadino, dia ibaratkan seperti air sungai
yang sedang mengalir. Ketemu batu di depan, ya belok kanan atau
belok kiri.
Namun seperti air di sungai, kitapun harus siap dikencingi,
dibuangi sampah dan kotoran-kotoran yang lain. Jadi, pilih
mana? GOBLOK atau PINTAR?
> "Pengusaha tak harus pintar dalam segala hal. Tapi harus pintar
mencari orang pintar"
01.44
Posted In
artikel wewe
Edit This
Menciptakan Kenangan Indah
Ken Blanchard, penulis buku terkenal "One Minute Manager", pada suatu saat membagikan sebuah kisah tentang apa yang dapat terjadi ketika para karyawan
di sebuah perusahaan meniru gaya kepemimpinan yang melayani, tak peduli posisi karyawan tersebut di dalam hierarki organisasi.
Seorang konsultan bisnis sedang melatih lebih dari 3.000 karyawan di sebuah grup supermarket di wilayah Barat Tengah Amerika Serikat, agar mereka bekerja dengan tujuan untuk menciptakan kenangan bagi para pelanggan mereka.
Johnny, 19 tahun, adalah seorang petugas di bagian pembungkusan barang belanja yang memiliki penyakit down syndrome.
Tanggapannya yang pertama terhadap nasihat konsultan itu adalah, "Saya ini hanya seorang petugas di bagian pembungkus".
Walaupun demikian, ketika ia pulang ke rumahnya ia membagikan perkataan konsultan itu dengan ibunya. Mereka mulai merenungkan apa yang dikatakan konsultan itu tentang bagaimana menciptakan kenangan indah bagi para pelanggan.
Johnny mempunyai kebiasaan mengumpulkan kisah-kisah penuh inspirasi yang ia sering baca. Ia memutuskan bahwa ia akan mulai mencetak perkataan-perkataan inspirasional itu dan menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan pelanggannya.
Ketika para pelanggan datang melewati jalur pembayaran dan Johnny membungkus barang belanjaan mereka, tak lupa Johnny menaruh kertas inspiratif itu di kantong belanjaan mereka, sambil berkata, "Saya sudah menaruh beberapa kisah inspiratif di dalam kantong ini dengan harapan hal itu dapat menambah semangat anda hari ini. Terima kasih karena anda belanja di sini."
Setelah berlangsung beberapa minggu, sesuatu yang luar biasa mulai terjadi.
Pada suatu hari manajer toko memperhatikan bahwa semua pelanggan mengantri di satu kasir saja, sedangkan kasir lainnya kosong. Ia mulai panik, mengira
bahwa mesin-mesin kasir lain sedang rusak.
Setelah diselidiki ternyata bukan itu masalahnya. Sesungguhnya, para pelanggan ingin melewati konter Johnny agar mendapatkan kisah inspiratif untuk hari itu.
Seorang wanita mendatangi manajer toko itu dan berkata, "Biasanya saya belanja ke sini seminggu sekali, tetapi sekarang saya datang setiap hari."
Teladan Johnny menyebar ke departemen lain di supermarket itu. Bagian penjualan bunga membagikan sekuntum bunga kepada setiap pembeli bunga.
Bagian penjualan daging menempelkan stiker Snoopy dengan ucapan tertentu yang menarik pada setiap pembelian daging. Tindakan dari seorang petugas pembungkus belanjaan telah mengubah suasana di supermarket itu.
Apakah anda telah menciptakan kenangan indah kepada orang lain hari ini?
Orang yang terbesar di dunia ini adalah orang yang melayani.
Have a Positive Day
01.44
Posted In
artikel wewe
Edit This
Nikmatnya hidup bila kita bersyukur
Begitu memasuki mobil mewahnya, seorang direktur bertanya pada supir pribadinya, "Bagaimana kira-kira cuaca hari ini?" Si supir menjawab, "Cuaca hari ini adalah cuaca yang saya sukai" Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, direktur ini bertanya lagi, "Bagaimana kamu bisa begitu yakin?"
Supirnya menjawab, "Begini, pak, saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan."
Jawaban singkat tadi merupakan wujud perasaan syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.
Seorang pengarang pernah mengatakan, "Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi." Ini perwujudan rasa syukur.
Ada dua hal yang sering membuat kita tak bersyukur. Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang kita miliki. Katakanlah Anda sudah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi Anda masih merasa kurang.
Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, lihatlah orang-orang disekitar anda yang hidupnya tidak sebaik anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingk an diri kita dengan orang lain. Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.
Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya.
Saya menjadi gemar berganta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya. Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.
Ada cerita tentang saudara kita yang hidupnya diberatkan karena hutang, bukan karena kebutuhan hidup yang membuat dia berhutang, tetapi ketidak-mampuannya menahan hawa nafsu untuk memiliki barang. Sudah memiliki motor, ingin membeli motor baru, walaupun cicilan kreditnya cukup besar, membeli TV baru dengan alasan TV yang lama sudah kuno. Dan banyak lagi demi gengsi atau demi sekedar kepuasan semata. Tetapi sekarang hidupnya selalu susah dan diberatkan oleh hutang. Hutang yang satu ditutup dengan hutang lainnya. Akhirnya hidupnya menjadi susah, ingin bekerja susah, ingin ngaji juga susah karena hutangnya sudah banyak dimana-mana. Semoga kita dijauhkan dari beratnya hutang.
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki. Karena itu bersyukur merupakan kualitas hati yang tertinggi. Bersyukur dapat membuat hidup kita lebih tentram.
01.43
Posted In
artikel wewe
Edit This
Gengsi vs Sesuap Nasi
Seberapa pentingkah sebuah gengsi bagi anda? Benarkah gengsi merupakan sebuah gaya hidup yang mencerminkan status sosial seseorang.Perlukah sebuah gengsi diburu dan dipuja sedangkan disekeliling kita masih banyak yang mengejar kebutuhan pokok sehari - hari.
Seorang rekan kerja dulu sampai bela-belain hutang ke koperasi hanya untuk ganti HP. Padahal HP yang lama juga masih ada, sehat wal afiat malah. Cuman blom ada feature kamera 1.3 MP dan MP3 playernya, seperti HP yang waktu itu baru beredar. Makanya saking kebeletnya, meski ngga punya duit, datanglah dia ke koperasi karyawan membawa selembar kertas hutang. Dulu ada tetangga yang beli TV 29 inch. Dalam tempo 3 bulan, rumah – rumah satu gang disitu TV-nya ganti baru, 29 inch semua !
Inikah mentalitas masyarakat kita? Sebuah kesuksesan diukur dari materi yang dimiliki; rumah, mobil, pakaian dan lain sebagainya. Ngga ambil pusing gimana memperolehnya. Hutang menumpuk, nyicil seumur hidup atau kalo perlu korupsi sedikit – sedikit. Disisi lain, kejujuran, ketekunan, kerja keras jika belum menghasilkan materi yang berlimpah dicemooh.Ukuran kenikmatan kerja bukan lagi nyamannya kita melakukan pekerjaan atau panggilan hati untuk menekuni suatu profesi, tapi berapa pendapatan yang kita terima dan fasilitas apa aja yang kita dapatkan dari pekerjaan itu.
Mental seperti ini menggiring kita untuk berperilaku konsumtif, membeli sesuatu bukan berdasarkan NEED tapi semata WANT. Semata – mata untuk memuaskan keinginan meski sebenarnya ngga butuh – butuh amat. Sing penting nduwe. Atau gur nggo ngumukake ning tangga teparo! Maka, jangan heran mall – mall tumbuh subur bertebaran di penjuru kota . Memanjakan para pemburu gengsi. Memamah biakkan sikap hidup konsumtif-individua listis, kata teman.
Kadang saya bertanya seberapa miskinnya sih bangsa ini? Demikian banyak data statistik yang menguraikan betapa besarnya hutang LN kita menimbulkan defisit neraca berjalan yang makin lama makin membengkak. Bahwa ada 37 koma sekian juta jiwa yang hidup di bawah garis kemiskinan. Berita di Koran dan TV sering menyajikan potret keluarga pra sejahtera. Rumah berlantai tanah dan berdinding gedhek; bolong sana sini. Keluarga yang ngga mampu beli nasi sehingga harus makan thiwul. Belum lagi anak-anaknya putus sekolah karena ngga ada biaya. Jutaan manusia yang diberi status miskin rela antri berdesakan selama berjam – jam untuk segepok ratusan ribu rupiah, hibah dari sang sinterklas bernama pemerintah.
Disisi lain, ada kelas masyarakat yang selalu memenuhi pusat perbelanjaan. Belanja jor – joran. Segala merk produk terbaru dilalap habis, bahkan sampai “mengejar”-nya keluar negeri. Mereka juga rela antri berdesakan berjam – jam untuk membeli barang – barang mewah produk terbaru. Saya kutip dari milis sebelah: Orang-orang Indonesia , diberitakan, menghabiskan Rp1 triliun pada Shopping Season Juni 2005 di Singapura. Mereka adalah penghambur terbesar (biggest spendor) mengalahkan para tukang belanja dari negara maju seperti AS.
Bukankah sebuah kontradiksi yang menyakitkan. Ketika berjuta rakyat pusing memikirkan bagaimana memperoleh ribuan rupiah untuk bertahan hidup hari ini, segelintir kalangan justru menghamburkan trilliunan rupiah untuk memuaskan nafsu belanjanya.
Sopo TEKUN nggolek TEKEN bakal TEKAN
01.43
Posted In
artikel wewe
Edit This
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Seorang Chief Operating Officer sebuah perusahaan ternama dunia hari itu datang kekantornya yang megah tepat jam 7 pagi. Sang pemilik perusahaan memasuki ruang kerjanya tak lama kemudian. Setelah berbasa-basi sedikit, beliau berujar;"My friend," katanya. "Aku bangga dengan hasil kerjamu selama ini," lanjutnya. Sang CEO tentu saja bahagia mendengar pujian bossnya itu. "Namun," lanjut si boss. Kali ini, hati CEO itu mulai dihinggapi tanda tanya besar. "Para
stakeholders kita menginginkan untuk menggantikanmu dengan seseorang yang lebih baik....."
Saat itu juga, pagi yang cerah seakan-akan berubah menjadi gelap gulita sambil sesekali dikilati cahaya dari bunyi petir dan gelegar halilintar yang membuat jiwa bergetar. Sang CEO hanya bisa terpana. Seolah tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Seandainya, berita itu tidak ditujukan kepada CEO yang
sedang kita bicarakan itu. Melainkan kepada anda.
What are you going to do?
Boleh jadi anda mengira bahwa percakapan diatas itu sekedar rekaan belaka. Tapi, jika anda mengikuti perkembangan dunia bisnis internasional akhir-akhir ini; anda akan menemukan bahwa pembicaraan semacam itu sungguh-sungguh terjadi didunia nyata.
'Korbannya'?
Banyak. Mulai dari orang nomor satu di bank terkemuka. Pemimpin perusahaan farmasi tercanggih. Hingga raksasa minuman berbahan dasar kopi yang aroma ketenarannya sampai kesini. Bahasa politik boleh mengatakannya dengan halus, semisal; pensiun dini atau golden shake hand. Tetapi, dalam bahasa kita; itu tidak beda dengan tiga huruf mengerikan bernama P. Dan H. Dan K. Sounds familiar, right? Yes, that PHK.
Anda tentu masih ingat kisah tragis legendaris yang menimpa kapal pesiar Titanic yang tenggelam pada tanggal 14 April 1912. Peristiwa itu diperkirakan menelan 1,500 korban jiwa. Para ahli mempercayai bahwa faktor utama yang menyebabkan banyaknya jumlah korban jiwa bukanlah semata-mata tenggelamnya kapal tersebut, melainkan; kurangnya jumlah sekoci yang ada dikapal itu dibandingkan dengan jumlah penumpang yang ada. Mereka begitu yakin bahwa Titanic tidak
bisa tenggelam. Jadi, mengapa harus menyediakan sekoci? Konon, ketika perisiwa itu terjadi; sesungguhnya masih banyak waktu untuk
melakukan penyelamatan. Namun, karena jumlah sekoci penyelamat hanya sedikit, hanya sebagian kecil saja yang bisa diselamatkan.
Dalam kehidupan kerja pun kita sering berpikir seperti itu. Kita begitu yakin bahwa kapal yang kita gunakan untuk mengarungi samudera dunia kerja ini tidak akan tenggelam. Sehingga kita tidak merasa penting untuk memiliki sekoci. Tetapi, berapa banyak sudah perusahaan yang gulung tikar dan kemudian tenggelam seperti halnya Titanic? Jika kita boleh berkata tanpa sensor, sesungguhnya dunia kerja kita lebih beresiko daripada Titanic. Apa yang terjadi pada Titanic adalah musibah bagi semua penumpang. Semua orang menghadapi masalah yang sama. Sebab; orang baik tidak ditendang keluar dari kapal. Tetapi, dalam sebuah perusahaan; sudah sering terjadi seorang karyawan ditendang keluar dari bahtera perusahaan semudah itu. Seperti peristiwa yang menimpa sang CEO diatas itu.
Jika itu bisa terjadi kepada pimpinan puncak sebuah perusahaan; maka tidak heran jika bisa dengan sangat gampangnya menimpa karyawan-karyawan dilevel lainnya. Ya. Tentu saja. Anda sudah tahu itu. Bahkan mungkin sudah banyak teman anda yang terkena PHK juga. Sayangnya, saat ini pun kita masih begitu yakinnya untuk mengatakan bahwa kita tidak akan mengalami nasib seperti itu. Sungguh, tidak ada yang menjaminnya. Sebab, bagaimanapun juga itu bisa menimpa siapa saja. Karyawan yang jelek. Karyawan yang bagus. Karyawan dilevel manapun juga. Direktur? Sudah banyak direktur yang terkena PHK juga, bukan?
Seseorang menganggap saya ini terlampau pesimis dalam memandang masa depan pekerjaan. Saya bilang;"Ada bedanya antara sikap pesimis dengan sikap antisipatif. Seseorang yang pesimis, memandang dari sisi negatif, dan dia tidak melakukan apa-apa untuk mempersiapkan dirinya, kecuali memelihara perasaan was-was. Sedangkan, orang yang antisipatif, memandang sebuah resiko secara rasional dan proporsional. Lalu dia mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi
sulit jika terjadi sewaktu-waktu. "
PHK adalah resiko kita sehari-hari. Kita tidak perlu terlampau percaya diri dengan mengatakan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi pada kita. Atau sebaliknya terlalu takut jika mengalaminya. Sebab, selama kita 'mempersiapkan diri kita untuk menghadapi kemungkinan itu,' maka yakinlah bahwa masa depan kita akan baik-baik saja. Paling tidak, kita tidak terlampau syok, jika itu benar-benar terjadi. Dan yang lebih penting dari itu adalah; memulai mempersiapkan 'sekoci' itu dari saat ini. Sekoci yang selalu siap digunakan jika sewaktu-waktu kita membutuhkannya.
Begitu beragamnya reaksi orang ketika terjadi PHK. Ada yang panik. Ada yang biasa-biasa saja. Ada pula yang senang alang kepalang. Ada orang yang mendapatkan 'golden shake hand' tetapi hatinya miris dan menghadapi dunia didepannya dengan tatapan pesimis. Ada yang mendapatkan uang pesangon sekedar sesuai dengan peraturan yang tertuang dalam undang-undang; namun, memandang masa depannya dengan antusias dan optimis. Mengapa sikap mereka bisa beda begitu ya? Ternyata, orang-orang yang sudah 'mempersiapkan' dirinya untuk situasi sulit seperti itu lebih bisa menghadapi kenyataan itu.
Mereka melihat sisi terangnya. Dan mereka menemukan bahwa; itu bukanlah akhir dari segala-galanya.
Beberapa waktu lalu saya mendapatkan email dari seorang teman yang mengalami 'perlakuan' kurang patut diperusahaan. Menyimak kompleksnya permasalahan yang dihadapinya, tidaklah mudah untuk meresponnya. Tetapi, tepat sehari sebelum saya menerima email itu, saya bertemu dengan seorang sahabat lama. Bagi saya, beliau bukan sekedar sahabat; melainkan juga seorang mentor. Puncak karir beliau adalah Direktur Pengembangan Bisnis pada sebuah perusahaan multinasional dengan pengalaman kerja 20 tahun.
Dia bangga dengan pencapaiannya. Dan dia tahu kualitas dirinya yang tinggi. Namun, suatu ketika perusahaan memintanya untuk menduduki sebuah jabatan lain. Jabatan itu levelnya bukan Direktur, melainkan manager biasa. Jelas, orang ini diturunkan pangkatnya. Dan yang lebih menarik lagi adalah: posisi baru yang harus dipegangnya adalah sebuah posisi yang sebelumnya berada langsung dibawah kepemimpinannya. Sedangkan posisi direktur kini diduduki oleh orang
lain. Itu terjadi tahun 2002. Dan orang itu - dengan segala kualitas diri yang dimilikinya - ketika bertemu dengan saya kemarin; menjadi orang yang lebih berhasil dari sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa emas tetaplah emas, meskipun terbenam dalam tanah berlumpur. Saya sendiri mempunyai prinsip pribadi yang berbunyi; 'bersiap-siap seolah akan terkena phk besok pagi.' Dengan prinsip itu, sedari sekarang saya mulai mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Saya
belajar banyak hal hari ini, supaya besok bisa menjaga diri. Jika besok pagi saya mendapatkan phk itu, sekurang-kurangnya secara mental saya sudah menjadi lebih siap. Sehingga, bebannya mungkin akan menjadi lebih ringan. Apakah anda juga demikian?
Hore,
Hari Baru!
Dikutip dari
Dadang Kadarusman
01.42
Posted In
artikel wewe
Edit This
Bapak Tak Lagi Ingin ke Masjid
Oleh Sabrul Jamil
Laksana pendaki yang berhasil mencapai puncak suatu gunung, demikianlah agaknya perasaanku pada waktu itu. Lewat perjuangan panjang berbilang tahun, dengan hitung-hitungan yang serba rumit, bikin senewen, bahkan terkadang memicu pertengkaran, serta melewati berbagai keterbatasan yang menghalangi, akhirnya berhasil juga aku memiliki rumah sendiri. Meski bukan rumah mewah, bukan pula di real estate, juga bukan berada di Ibu kota, bahkan terlontar jauh mendekati kota Bogor, namun inilah rumahku. Dengan luas tanah tercatat di sertifikat 150 M2, dan luas bangunan tertulis di brosur 78M2, inilah prestasi yang berhasil kuraih, tentu bersama isteri, dengan perjuangan setengah mati.
Aku bahagia. Ya, sungguh bahagia. Memang masih ada cicilan selama belasan tahun yang harus kulunasi hingga anak-anakku lulus kuliah nanti. Tapi biarlah. Toh semua sudah aku dan isteriku perhitungkan dengan seksama. Memang masih ada kemungkinan kami tak kuat membayar cicilan karena salah perhitungan. Tapi biarlah, toh hidup memang penuh risiko.
Aku bahagia. Bahkan sangat bahagia. Karena rumah ini bukan untuk aku tempati sendiri, melainkan akan ditempati oleh kedua orang tuaku. Selama ini mereka mengontrak. Ya, sudah hampir lima tahun mereka menjalani hidup sebagai ‘kontraktor’. Sungguh suatu perjalanan nasib yang menyedihkan di hari tua mereka. Setelah berjuang keras seumur hidup membiayai kami, aku dan adik-adikku, mereka gagal mempertahankan rumah kami tercinta. Rumah penuh kenangan tersebut disita bank, karena dijadikan agunan ketika dahulu bapak meminjam uang untuk modal usaha. Bapak tak lagi sanggup membayar cicilan ke Bank, dan dengan berat hati melepas sertifikat rumah menjadi milik Bank. Toko bangkrut, rumah disita, Bank tak peduli. Namun aku dan adik-adikku semua sukses menjadi sarjana. Begitulah.
Namun menjadi sarjana nyaris bukan berarti apa-apa di zaman banyak orang pintar ini. Perlu perjuangan lima tahun penuh bagi aku dan isteriku untuk dapat membeli rumah sekedar layak huni saja. Tak ada pengembang perumahan yang menanyakan ijazah kami yang asli keluaran Universitas Indonesia. Mereka hanya tertarik menanyakan slip gaji kami, yang dengan sungguh-sungguh kubuat seasli mungkin, tanpa rekayasa angka-angka dari bagian SDM agar angkanya terlihat besar dan lebih mengesankan di mata pengembang.
Jadi, bisa dibayangkan, betapa bahagianya aku, berhasil membelikan sebuah rumah di kawasan nan teduh lagi sejuk buat kedua orang tuaku. Mereka tak lagi mengontrak. Tak perlu cemas memikirkan uang kontrakan saban tahun. Tak perlu khawatir apakah tahun ini diperkenankan memperpanjang kontrakan ataukah harus pindahan mengangkut barang-barang mencari kontrakan baru. Tak perlu menyesali nasib karena menjalani hari tua di rumah orang.
Aku sendiri tak mungkin meninggali rumahku yang baru kubeli itu. Letaknya terlalu jauh dari tempat kerjaku. Juga berjam-jam dari tempat isteriku mengajar. Pun sama jauhnya dengan lokasi sekolah kedua anakku. Jadi, kami - aku dan isteri beserta kedua anakku - tetap tinggal di kontrakan kami tercinta. Semua demi alasan efisiensi. Bukankah efisiensi sekarang menjadi kata sakti yang didengung-dengungkan semua orang?
Adapun orang tuaku, mereka sungguh-sungguh bersyukur. Tempat tinggal yang baru ini memang cocok untuk orang-orang seusia mereka. Jauh dari keramaian, namun dekat dengan Masjid. Polusi udara tak terlalu pekat. Masih banyak pepohonan dengan dedaunan yang lebat. Saat pagi, udara masih terasa begitu segar. Belum ada motor yang menderum-derum lewat, atau para eksekutif perusahaan yang memacu sedannya seperti mobil pemadam kebakaran.
Pegunungan pun tampak biru membayangi, seolah melatari kompleks perumahan. Indah sekali. Seperti tinggal di kawasan Puncak rasanya. Sisa-sisa embun bergayut, bergantungan malas di ujung-ujung rerumputan, menandai menggeliatnya hari baru. Terkadang melintas kodok yang kesiangan, kebingungan mencari arah pulang.
Saat malam, udara sejuk melintas memasuki sela-sela pintu dan kusen jendela. Suara serangga malam bersahut-sahutan, tak terhitung jenisnya. Suatu konserto doa mensyukuri alam yang masih ramah untuk mereka tinggali.
Pagi dan malam sama indahnya.
* * * *
Enam bulan berlalu sejak kepindahan. Setengah memaksakan diri, akhirnya aku berhasil menyempatkan diri singgah. Dengan mengendarai sepeda motor, dibutuhkan waktu hampir dua jam untuk sampai ke kawasan Parung, Bogor. Jarak tempuh yang relatif jauh inilah yang menyebabkanku jarang-jarang menyinggahi ayah dan ibuku. Ini adalah kunjunganku yang pertama sejak kepindahan dulu. Hari ini, setelah enam bulan mereka menempati rumah baru, aku akhirnya berkunjung.
“Gimana pak tinggal di sini, enak?” tanyaku sambil duduk lesehan, meluruskan kaki, mengambil ancang-ancang untuk rebahan. Ruang tamu yang tidak seberapa luas itu terasa lapang, karena tidak dipadati oleh sofa, meja tamu, kipas angin, lampu gantung dan atribut-atribut mubazir lainnya. Hanya selembar karpet tua yang bersih terhampar, menggodaku untuk berbaring.
“Yah, alhamdulillah, ” jawab bapakku singkat. Beliau memang selalu begitu. Tak banyak bicara. Menjawab seperlunya. Bahkan bertanya pun seperlunya pula. Tapi aku yakin jawaban beliau jujur apa adanya. Orang yang bicaranya sedikit biasanya jujur, begitu pikirku. Entah benar, entah tidak. Tapi beliau terkadang bicara panjang lebar, jika menemukan hal-hal yang kurang berkenan. Kulihat kulitnya lebih bersih, bahkan lebih putih. Wajahnya lebih cerah, dan sepertinya berat badannya pun bertambah. Aku tersenyum, bersyukur, dan berbaring. Dua jam di atas motor otot-otot di seluruh tubuhku menjerit-jerit minta istirahat.
Tak lama kemudian ibuku keluar dari kamar. Nah, berlainan dengan bapakku yang bicara serba singkat, ibuku justru senang membicarakan apa saja, kapan saja, dan di mana saja. Kedatanganku yang tiba-tiba, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, telah memberikan kejutan yang menyenangkan baginya. Dan jika senang, ibuku semakin semangat berbicara. Beliau langsung menghujaniku dengan rentetan pertanyaan.
Di ruang tamu, beliau menanyakan kabar isteri dan anak-anakku, kenapa isteriku tidak diajak, apakah di tempat tinggalku sering turun hujan atau tidak, apakah anak-anak baik-baik saja (pertanyaan yang ini beliau ulang dua kali, yang kujawab dua kali pula). Kemudian beliau berjalan ke dapur, dan setengah berteriak, menanyakan kabar pekerjaanku, seolah beliau paham betul apa yang kukerjakan di kantor. Sambil membuatkan minuman, masih setengah berteriak, beliau menanyakan kabar sekolah anak-anakku, kapan bagi raport, dan apakah liburan nanti jadi main kemari. Beliau bahkan masih juga sempat mengajukan pertanyaan,
“Gulanya berapa sendok nih?”
Setelah minuman terhidang, dan aku tidak jadi tertidur, mengalirlah berbagai cerita tentang kesibukan kedua orang tuaku di tempat barunya ini.
“Sekarang bapak sudah jadi imam Masjid di masjid komplek ini!” kata ibuku dengan semangat. Ada nada bangga yang terselip, di sela-sela kalimatnya yang riang.
“Bukan imam Masjid bu, imam salat, ” kata bapakku meluruskan. “Kalau imam Masjid, namanya pak Komar. Kalau bapak, kadang-kadang saja jadi imam, jika pak Komar berhalangan.”
Ibuku mengabaikan saja informasi itu. Apa bedanya? Kan sama-sama imam! Mungkin demikian pikirnya. Aku tersenyum saja.
“Setiap selesai sholat, bapak sering memimpin wirid, dzikir dan membaca doa. Untung bapak hapal doa-doa. Dulu waktu tinggal di Cililitan, bapak kan sering ikutan pengajian orang-orang Betawi. Jadi sekarang bapak sudah lancar memimpin doa”, lagi-lagi ibuku yang bercerita dengan lancar. Bapakku hanya diam, tampak berpikir. Misterius. Selama bertahun-tahun aku mengenalnya, biasanya ada suatu cerita tersembunyi yang hendak beliau ungkapkan, jika beliau terdiam seperti itu.
Tapi ternyata, untuk saat ini, beliau hanya melontarkan satu kalimat, “Di sini kan banyak orang-orang muda, jadi bapak yang dituakan.” Sesederhana itulah penjelasan beliau.
Nah, aku sebenarnya baru tahu kalau perumahan ini berisi orang-orang muda. Rupanya mereka adalah para keluarga muda, para pekerja yang umumnya bekerja di kawasan Bogor. Jadi tak terlalu jauh. Tak ada risiko kena macet, terlambat ke kantor, atau pulang kemalaman. Mereka adalah orang-orang yang kira-kira seusia denganku. Wajar saja jika bapakku kemudian dituakan.
Hari itu, aku pulang dengan tubuh letih namun hati lega berbunga-bunga. Bapak ibuku telah menemukan komunitas yang tepat di hari tua mereka. Para tetangga umumnya orang-orang terdidik, muda, seusia denganku, dan menempatkan bapak ibuku seolah orang tua mereka sendiri. Bapak rajin ke masjid, salat lima waktu, memimpin salat, memimpin wirid, dan ibuku rajin ke pengajian, menengok bayi yang baru lahir, dan menerima kiriman nasi kuning setiap kali ada anak yang ulang tahun.
Sungguh hari tua yang ideal!
(bersambung)
Tentang Penulis:
Sabrul Jamil, lahir di Jakarta 13 Maret 1973. Lulusan Universitas Indonesia jurusan matematika ini lebih banyak bekerja di bidang teknologi informasi. Tapi masih menyempatkan diri untuk menuangkan pikiran-pikirannya dalam bentuk tulisan ringan. Puluhan tulisannya sudah dimuat di rubrik oase iman Eramuslim. Karya tulisnya berjudul "Buku Petunjuk Pembuatan Aplikasi Point Of Sale Menggunakan PHP dan MySQL, " diterbitkan oleh Dian Rakyat pada tahun 2006.
01.40
Posted In
artikel wewe
Edit This
8 Etos Pendongkrak Gairah Kerja!
Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari. Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh "5-ng": ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel.
Punya masalah dengan semangat kerja?
Jangan gundah gulana, Anda tidak sendirian.
Banyak orang lain yang punya problem serupa. Namun, bukan tidak ada solusinya!
Hampir semua orang pernah mengalami gairah kerjanya melorot. "Itu lumrah," kata Jansen Sinamo, ahli pengembangan sumber daya manusia dari Institut Darma Mahardika, Jakarta .
Meski lumrah, "impotensi" kerja harus diobati.
Cara terbaik untuk mengatasinya, menurut Jansen, dengan langsung membenahi pangkal masalahnya, yaitu motivasi kerja. Itulah akar yang membentuk etos kerja.
Secara sistematis, Jansen memetakan motivasi kerja dalam konsep yang ia sebut sebagai "Delapan Etos Kerja Profesional".
Sejak 1999, ia aktif mengampanyekan gagasan itu lewat berbagai pelatihan yang ia lakukan.
Memahat yang tak terlihat
Etos pertama: kerja adalah rahmat.
Apa pun pekerjaan kita, entah pengusaha, pegawai kantor, sampai buruh kasar sekalipun, adalah rahmat dari Tuhan. Anugerah itu kita terima tanpa syarat, seperti halnya menghirup oksigen dan udara tanpa biaya sepeser pun.
Bakat dan kecerdasan yang memungkinkan kita bekerja adalah anugerah. Dengan bekerja, setiap tanggal muda kita menerima gaji untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan bekerja kita punya banyak teman dan kenalan, punya kesempatan untuk menambah ilmu dan wawasan, dan masih banyak lagi. Semua itu anugerah yang patut disyukuri. Sungguh kelewatan jika kita merespons semua nikmat itu dengan bekerja ogah-ogahan.
Etos kedua: kerja adalah amanah.
Apa pun pekerjaan kita, pramuniaga, pegawai negeri, atau anggota DPR, semua adalah amanah. Pramuniaga mendapatkan amanah dari pemilik toko. Pegawai negeri menerima amanah dari negara. Anggota DPR menerima amanah dari rakyat. Etos ini membuat kita bisa bekerja sepenuh hati dan menjauhi tindakan tercela, misalnya korupsi dalam berbagai bentuknya.
Etos ketiga: kerja adalah panggilan.
Apa pun profesi kita, perawat, guru, penulis, semua adalah darma.
Seperti darma Yudistira untuk membela kaum Pandawa.
Seorang perawat memanggul darma untuk membantu orang sakit.
Seorang guru memikul darma untuk menyebarkan ilmu kepada para muridnya.
Seorang penulis menyandang darma untuk menyebarkan informasi tentang kebenaran kepada masyarakat.
Jika pekerjaan atau profesi disadari sebagai panggilan, kita bisa berucap pada diri sendiri, "I’m doing my best!"
Dengan begitu kita tidak akan merasa puas jika hasil karya kita kurang baik mutunya.
Etos keempat: kerja adalah aktualisasi.
Apa pun pekerjaan kita, entah dokter, akuntan, ahli hukum, semuanya bentuk aktualisasi diri. Meski kadang membuat kita lelah, bekerja tetap merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi diri dan membuat kita merasa "ada". Bagaimanapun sibuk bekerja jauh lebih menyenangkan daripada duduk bengong tanpa pekenjaan.
Secara alami, aktualisasi diri itu bagian dari kebutuhan psikososial manusia. Dengan bekerja, misalnya, seseorang bisa berjabat tangan dengan rasa pede ketika berjumpa koleganya. "Perkenalkan, nama saya Miftah, dari Bank Kemilau."
Keren ' kan ?
Etos kelima: kerja itu ibadah.
Tak peduli apa pun agama atau kepercayaan kita, semua pekerjaan yang halal merupakan ibadah. Kesadaran ini pada gilirannya akan membuat kita bisa bekerja secara ikhlas, bukan demi mencari uang atau jabatan semata.
Jansen mengutip sebuah kisah zaman Yunani kuno seperti ini:
Seorang pemahat tiang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mengukir sebuah puncak tiang yang tinggi. Saking tingginya, ukiran itu tak dapat dilihat langsung oleh orang yang berdiri di samping tiang. Orang-orang pun bertanya, buat apa bersusah payah membuat ukiran indah di tempat yang tak terlihat?
Ia menjawab, "Manusia memang tak bisa menikmatinya. Tapi Tuhan bisa melihatnya."
Motivasi kerjanya telah berubah menjadi motivasi transendental.
Etos keenam: kerja adalah seni.
Apa pun pekerjaan kita, bahkan seorang peneliti pun, semua adalah seni. Kesadaran ini akan membuat kita bekerja dengan enjoy seperti halnya melakukan hobi.
Jansen mencontohkan Edward V Appleton, seorang fisikawan peraih nobel.
Dia mengaku, rahasia keberhasilannya meraih penghargaan sains paling begengsi itu adalah karena dia bisa menikmati pekerjaannya.
"Antusiasmelah yang membuat saya mampu bekerja berbulan-bulan di laboratorium yang sepi," katanya.
Jadi, sekali lagi, semua kerja adalah seni. Bahkan ilmuwan seserius Einstein pun menyebut rumus-rumus fisika yang njelimet itu dengan kata sifat beautiful.
Etos ketujuh: kerja adalah kehormatan.
Seremeh apa pun pekerjaan kita, itu adalah sebuah kehormatan. Jika bisa menjaga kehormatan dengan baik, maka kehormatan lain yang lebih besar akan datang kepada kita.
Jansen mengambil contoh etos kerja Pramoedya Ananta Toer. Sastrawan Indonesia kawakan ini tetap bekerja (menulis), meskipun ia dikucilkan di Pulau Buru yang serba terbatas. Baginya, menulis merupakan sebuah kehormatan. Hasilnya, kita sudah mafhum.
Semua novelnya menjadi karya sastra kelas dunia.
Etos kedelapan: kerja adalah pelayanan.
Apa pun pekerjaan kita, pedagang, polisi, bahkan penjaga mercu suar, semuanya bisa dimaknai sebagai pengabdian kepada sesama.
Pada pertengahan abad ke-20 di Prancis, hidup seorang lelaki tua sebatang kara karena ditinggal mati oleh istri dan anaknya.
Bagi kebanyakan orang, kehidupan seperti yang ia alami mungkin hanya berarti menunggu kematian. Namun bagi dia, tidak. Ia pergi ke lembah Cavennen, sebuah daerah yang sepi.
Sambil menggembalakan domba, ia memunguti biji oak, lalu menanamnya di sepanjang lembah itu. Tak ada yang membayarnya. Tak ada yang memujinya. Ketika meninggal dalam usia 89 tahun, ia telah meninggalkan sebuah warisan luar biasa, hutan sepanjang 11 km! Sungai-sungai mengalir lagi. Tanah yang semula tandus menjadi subur. Semua itu dinikmati oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal.
Di Indonesia semangat kerja serupa bisa kita jumpai pada Mak Eroh yang membelah bukit untuk mengalirkan air ke sawah-sawah di desanya di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Juga pada diri almarhum Munir, aktivis Kontras yang giat membela kepentingan orang-orang yang teraniaya.
"Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan dilengkapi keinginan untuk berbuat baik," kata Jansen. Dalam bukunya Ethos21, ia menyebut dengan istilah rahmatan lii alamin (rahmat bagi sesama).
Pilih cinta atau kecewa
Menurut Jansen, kedelapan etos kerja yang ia gagas itu bersumber pada kecerdasan emosional spiritual. Ia menjamin, semua konsep etos itu bisa diterapkan di semua pekerjaan.
"Asalkan pekerjaan yang halal," katanya. "Umumnya, orang bekerja itu ‘ kan hanya untuk nyari gaji. Padahal pekerjaan itu punya banyak sisi," katanya.
Kerja bukan hanya untuk mencari makan, tetapi juga mencari makna. Rata-rata kita menghabiskan waktu 30 - 40 tahun untuk bekerja. Setelah itu pensiun, lalu manula, dan pulang ke haribaan Tuhan.
"Manusia itu makhluk pencari makna. Kita harus berpikir, untuk apa menghabiskan waktu 40 tahun bekerja. Itu ' kan waktu yang sangat lama," tambahnya.
Ada dua aturan sederhana supaya kita bisa antusias pada pekerjaan.
Pertama, mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat. Dengan begitu, bekerja akan terasa sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Jika aturan pertama tidak bisa kita dapatkan, gunakan aturan kedua: kita harus belajar mencintai pekerjaan. Kadang kita belum bisa mencintai pekerjaan karena belum mendalaminya dengan benar.
"Kita harus belajar mencintai yang kita punyai dengan segala kekurangannya," kata sarjana Fisika ITB yang lebih suka dengan dunia pelatihan sumber daya manusia ini.
Hidup hanya menyediakan dua pilihan: mencintai pekerjaan atau mengeluh setiap hari.
Jika tidak bisa mencintai pekerjaan, maka kita hanya akan memperoleh "5-ng": ngeluh, ngedumel, ngegosip, ngomel, dan ngeyel.
Jansen mengutip filsuf Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, "It’s not doing the thing we like, but liking the thing we have to do that makes life happy."
"Dalam hidup, kadang kita memang harus melakukan banyak hal yang tidak kita sukai. Tapi kita tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kita mau enaknya saja. Kalau suka makan ikan, kita harus mau ketemu duri," ujar pria yang kerap disebut sebagai Guru Etos ini.
Dalam dunia kerja, duri bisa tampil dalam berbagai macam bentuk. Gaji yang kecil, teman kerja yang tidak menyenangkan, atasan yang kurang empatik, dan masih banyak lagi. Namun, justru dari sini kita akan ditempa untuk menjadi lebih berdaya tahan.
Bukan gila kerja
Dalam urusan etos kerja, bangsa Indonesia sejak dulu dikenal memiliki etos kerja yang kurang baik.
Di jaman kolonial, orang-orang Belanda sampai menyebut kita dengan sebutan yang mengejek, in lander pemalas. Ini berbeda dengan, misalnya, etos Samurai yang dimiliki bangsa Jepang. Mereka terkenal sebagai bangsa pekerja keras dan ulet.
catatan|heaven*dragon:
Siapa bilang bangsa Indonesia pemalas? Tidakkah mereka pernah ke desa ataupun ke pasar rakyat, lihat dan saksikan bangsa ini sudah bangun dan bekerja sebelum subuh!
Dan kalau kita sempat menonton acara "Jika Aku Menjadi ..." di sebuah stasion tv.
Kerja keras!
Hanya itulah menjadi modal.
Untuk tetap survive!
Yang kurang dari bangsa ini adalah kemampuan manajerial, kemampuan untuk memanfaatkan modal dan sumber daya secara benar sehingga menghasilkan sesuatu yang maksimal.
Namun, Jansen menegaskan, pekerja keras sama sekali berbeda dengan workaholic.
Pekerja keras bisa membatasi diri, dan tahu kapan saatnya menyediakan waktu untuk urusan di luar kerja. Sementara seorang workaholic tidak. Dalam pandangan Jansen, kondisi kerja yang menyenangkan adalah kerja bareng semua pihak. Bukan hanya bawahan, tapi juga atasan.
Sering seorang atasan mengharapkan bawahannya bekerja keras, sementara ia sendiri secara tidak sengaja melakukan sesuatu yang melunturkan semangat kerja bawahan. Jansen memberi contoh, atasan yang mengritik melulu jika bawahan berbuat keliru, tapi tak pernah memujinya jika ia menunjukkan prestasi.
Secara manusiawi hal itu akan menyebabkan bawahan kehilangan semangat bekerja. Buat apa bekerja keras, toh hasil kerjanya tak akan dihargai. Ingat, pada dasarnya manusia menyukai reward.
Konosuke Matsushita, pendiri perusahaan Matsushita Electric Industrial (MET) punya teladan yang bagus. Pada zaman resesi dunia tahun 1929-an, pertumbuhan ekonomi Jepang anjiok tajam. Banyak perusahaan mem-PHK karyawan. MEI pun terpaksa memangkas produksi hingga separuhnya. Namun, Matsushita menjamin tak ada satu karyawan pun yang bakal terkena PHK.
Sebagai gantinya, ia mengajak semua karyawan bekerja keras.
Karyawan-karyawan bagian produksi dilatih untuk menjual.
Hasilnya benar-benar ruarrr biasa.
Mereka bisa berubah menjadi tenaga marketing andal, yang membuat Matsushita menjadi salah satu perusahaan terkuat di Jepang.
Bagaimana dengan Anda?